Gumuk Pasir Oetune: Sahara Kecil Dari Timur Indonesia
Ketika berbicara mengenai Nusa Tenggara Timur, seringkali yang terpikirkan hanyalah Pulau Komodo, Labuan Bajo, Wae Rebo, hingga Sumba. Padahal, sekitar 128 kilometer dari Ibu Kota Kupang terdapat gumuk pasir yang dapat dikunjungi dengan perjalanan darat selama tiga hingga empat jam.
Gumuk Pasir Oetune terletak di Desa Tuafanu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Berdasarkan citra Google Earth, Gumuk Pasir Oetune mulai terlihat sekitar tahun 2004 yang terbentuk karena proses aeolian, yaitu aktivitas dan kemampuan angin untuk mengikis, mengangkut, dan mengendapkan pasir hingga sangat banyak. Pasir yang terkumpul berasal dari pelapukan batuan yang menghasilkan sedimen. Sedimen tersebut kemudian terbawa oleh sungai dan mengendap di pesisir Oetune.
Endapan pasir di pesisir pada akhirnya terdorong oleh ombak dan angin menuju daratan. Proses tersebut berjalan secara berulang, sehingga pasir terus menumpuk dan tertahan vegetasi. Berdasarkan bentuk lahannya, Gumuk Pasir Oetune terbagi dalam tiga zona yang membentang dari selatan ke utara, yaitu Zona Marin, Zona Aeolin, dan Zona Fluvial. Merunut dari buku Gumuk Pasir Indonesia (2018), pada ketinggian 0,2 meter didapatkan kecepatan angin rata-rata tertinggi 2,6 m/s. Sementara itu, perpindahan pasir akibat terangkut angin yang terperangkap dalam alat sand trap di Zona Aeolian mencapai 47,6 gram/jam.

Gumuk Pasir Oetune didominasi tipe barchanoid yang terbentuk karena suplai sedimen melimpah dan arah angin relatif konstan. Tipe ini bisa dilihat dari punggungan gumuk pasir yang memanjang tegak lurus terhadap arah datangnya angin. Sementara itu, dari hasil analisis granulometri, yaitu metode untuk mengukur distribusi ukuran partikel dalam suatu bahan, ditemukan nilai sphericity Gumuk Pasir Oetune berkisar antara 65–77% dengan tingkat kebundaran (roundness) yang bervariasi dari angular hingga sub-angular.
Berbeda dengan gumuk pasir di daerah lain yang sudah terpengaruh oleh aktivitas manusia, hingga saat ini kawasan kepesisiran Oetune masih sangat alami dan proses pembentukannya masih terus berlangsung. Hal tersebut menuntut kita untuk tetap menjaga Gumuk Pasir Oetune agar tidak menjadi gumuk pasir yang mati dan tidak berkembang. Berbagai hal kecil, seperti tidak membuang sampah di gumuk, menjaga vegetasi asli dan lingkungan sekitar gumuk, serta tidak merusak atau mengambil bagian dari lingkungan alam.
Tito Yoga P.
Maganghub Kementrian Ketenagakerjaan
Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir
- Parangtritis Geomaritime Science Park (2019). Gumuk Pasir Indonesia: Melestarikan Dinamika Morfologi Gumuk Pasir di pantai-pantai Indonesia. https://bgpgp.big.go.id/buku/
- Kotta, H., & Banunaek, Z. (2021). Kajian Morfologi, Karateristik dan Kondisi Lingkungan Gumuk Pasir Pantai Oetune, Kecamatan Kualin Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Jurnal Teknologi, 15(2), 5-9.
