Apa yang Terjadi jika Gumuk Pasir Terus Berkurang?
Bagi sebagian orang, gumuk pasir mungkin hanya terlihat sebagai hamparan pasir biasa. Namun, di balik keberadaannya, gumuk pasir justru memiliki peran penting bagi ekosistem pesisir. Akan tetapi, beberapa tahun ke belakang, jumlah luasan gumuk pasir semakin berkurang. Hal tersebut tentu memberikan kekhawatiran bagi berbagai pihak. Lalu apa yang terjadi jika gumuk pasir terus berkurang?
Gumuk pasir merupakan bentang alam yang terbentuk dari proses pergerakan dan pengendapan pasir oleh angin. Proses ini berlangsung secara alami dan membutuhkan ketersediaan material pasir serta kondisi lingkungan yang mendukung. Salah satu kawasan gumuk pasir yang memiliki karakteristik khas berada di Parangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gumuk Pasir Parangtritis merupakan satu-satunya gumuk pasir aktif di kawasan Asia Tenggara.
Kawasan Gumuk Pasir Parangtritis menjadi bagian penting dalam kajian dan pemantauan dinamika wilayah pesisir. Keberadaannya sangat dipengaruhi oleh proses aeolian (tenaga angin), ketersediaan suplai material pasir, serta tingkat kerapatan vegetasi di sekitarnya. Ketika suplai material tersebut atau proses perpindahan pasir mengalami perubahan, maka pembentukan dan perkembangan gumuk pasir juga dapat ikut berubah.

Saat ini, kawasan gumuk pasir khususnya di Parangtritis terus mengalami penyusutan. Dalam kurun waktu 46 tahun (1976—2022), kawasan gumuk pasir yang langka ini telah kehilangan sekitar 395 hektare are pasir terbukanya. Penyusutan gumuk pasir tersebut terjadi karena berbagai faktor, seperti pertumbuhan vegetasi, pemukiman, dan aktivitas manusia lainnya.
Luasan gumuk pasir yang terus berkurang menandakan semakin sedikitnya ruang bagi proses alami pembentukan gumuk pasir yang berlangsung. Perubahan tersebut juga dapat mengubah karakteristik bentang alam yang selama ini menjadi ciri khas kawasan Parangtritis. Selain dampak terhadap bentuk lanskap, penyusutan gumuk pasir juga terkait dengan ekosistem pesisir.
Hal tersebut dikarenakan gumuk pasir memiliki fungsi ekologis, antara lain sebagai habitat bagi flora dan fauna khas gumuk pasir. Selain itu, kawasan ini juga memiliki fungsi dalam perlindungan pesisir dan mitigasi bencana tertentu.
Ketika gumuk pasir terus mengalami perubahan, fungsi-fungsi tersebut juga perlu menjadi perhatian. Karena itu, kondisi gumuk pasir tidak cukup hanya dilihat dari luasannya, tetapi juga dari bagaimana proses pembentukan dan perubahan bentang alamnya berlangsung. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan atau monitoring berkala untuk mengetahui perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Monitoring memungkinkan perubahan kawasan diamati berdasarkan data, bukan hanya berdasarkan pengamatan sesaat. Data tersebut dapat membantu melihat perubahan luas, bentuk, elevasi, maupun karakteristik permukaan gumuk pasir. Dengan membandingkan data dari waktu yang berbeda, perubahan bentang alam dapat diketahui dan dianalisis. Hal ini membantu memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai bagaimana gumuk pasir berubah serta bagian mana yang mengalami perubahan.
Menjaga gumuk pasir bukan berarti menghentikan proses alam yang membentuknya. Sebaliknya, diperlukan pemahaman terhadap proses tersebut agar aktivitas manusia dan pengelolaan kawasan dapat berjalan secara lebih seimbang. Sebab, ketika sebuah gumuk pasir menghilang, yang hilang bukan hanya hamparan pasir, tetapi juga sebuah proses alam yang telah berlangsung selama ribuan tahun.
Siti Ayatul Qudsiyah
Maganghub Kementrian Ketenagakerjaan
Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir
Referensi:
-
Haryanti, S., & Sutanto, A. “Pengaruh Tutupan Vegetasi Terhadap Laju Sedimentasi di Gumuk Pasir Parangtritis”. Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 19 No.1 (Fakultas Teknologi Sumber Daya Alam Institut Negeri Yogyakarta, 2019).
- Peraturan Bupati Bantul Nomor 47 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Restorasi Gumuk Pasir Parangtritis Tahun 2024-2029.
