Melihat Perubahan Gumuk Pasir dari Langit: Peran Foto Udara dalam Pemantauan Kawasan
Pernahkah kita membayangkan apakah kondisi Gumuk Pasir Parangtritis saat ini masih sama dengan beberapa tahun sebelumnya? Hamparan pasir yang terlihat luas, vegetasi yang tumbuh di sekitarnya, hingga berbagai aktivitas manusia merupakan bagian dari bentang alam yang terus mengalami perubahan. Namun, perubahan tersebut tidak selalu dapat dikenali hanya melalui pengamatan secara langsung. Lantas, bagaimana kita dapat mengetahui perubahan yang terjadi di kawasan Gumuk Pasir Parangtritis secara lebih objektif?

Gumuk pasir merupakan bentang alam yang terbentuk melalui proses aeolian, yaitu proses perpindahan dan pengendapan material oleh tenaga angin. Pembentukan dan perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ketersediaan material pasir, arah dan kecepatan angin, kondisi permukaan, serta keberadaan vegetasi. Selain faktor alam, aktivitas manusia seperti pertanian, pembangunan, dan pemanfaatan kawasan juga dapat mempengaruhi karakteristik bentang lahan gumuk pasir. Interaksi berbagai faktor tersebut menyebabkan gumuk pasir menjadi bentang alam yang dinamis dan dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu (Fu et al., 2025).
Perubahan gumuk pasir tidak selalu berlangsung secara cepat atau mudah dikenali dalam satu kali pengamatan. Beberapa perubahan berlangsung secara bertahap, seperti bertambahnya tutupan vegetasi, berkurangnya area pasir terbuka, hingga perubahan bentuk dan persebaran gumuk pasir. Apabila hanya diamati pada satu waktu, kondisi tersebut mungkin terlihat biasa saja. Namun, ketika dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya, dapat ditemukan perbedaan karakteristik permukaan yang cukup berarti. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan secara berkala dengan memanfaatkan data yang mampu menggambarkan kondisi kawasan pada periode waktu berbeda.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk memantau perubahan tersebut adalah pemanfaatan foto udara dan teknologi penginderaan jauh. Foto udara merupakan gambaran permukaan bumi yang diperoleh melalui pemotretan menggunakan wahana udara, seperti pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Teknologi ini memungkinkan pengambilan data kawasan secara lebih detail sehingga berbagai objek di permukaan bumi dapat diamati dan diidentifikasi.

Melalui proses pengolahan fotogrametri, kumpulan foto udara yang saling bertampalan dapat diolah menjadi orthomosaic, yaitu gabungan foto udara yang telah dikoreksi secara geometrik sehingga memiliki kesesuaian posisi dan skala yang lebih baik. Produk ini dapat dimanfaatkan sebagai dasar untuk mengidentifikasi kondisi dan persebaran objek di suatu kawasan. Burchi dan Theuerkauf (2024) menunjukkan bahwa fotogrametri berbasis UAV dapat dimanfaatkan untuk mengukur perubahan geomorfologi pantai dan gumuk pasir, sedangkan McLaughlin dkk. (2026) menekankan pentingnya integrasi berbagai sumber data pemantauan untuk memahami dinamika kawasan pesisir secara lebih menyeluruh.
Pemanfaatan foto udara menjadi semakin penting ketika data yang diperoleh pada waktu berbeda dapat dibandingkan. Pendekatan ini dikenal sebagai analisis multitemporal, yaitu analisis yang memanfaatkan data dari beberapa periode untuk mengidentifikasi perubahan suatu objek atau fenomena di permukaan bumi. Sebagai contoh, foto udara kawasan Gumuk Pasir Parangtritis tahun 2019 dan 2026 dapat digunakan untuk mengamati perbedaan kondisi penutup lahan dalam rentang waktu tersebut. Melalui interpretasi visual dan pemetaan, berbagai objek seperti pasir terbuka, vegetasi, lahan pertanian, dan bangunan dapat diidentifikasi serta dipetakan.
Hasil perbandingan tersebut dapat menunjukkan bagian kawasan yang mengalami perubahan, baik berupa penambahan maupun pengurangan luasan pada masing-masing kelas penutup lahan. Martín-Gallego dkk. (2025) menjelaskan bahwa teknologi penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan lingkungan gumuk pasir, termasuk dinamika vegetasi dan karakteristik permukaannya. Sementara itu, Burvingt dkk. (2025) menunjukkan pemanfaatan citra satelit resolusi tinggi untuk mengamati perubahan morfologi gumuk pasir dalam rentang waktu beberapa tahun.

Proses pemantauan perlu dilakukan dengan memperhatikan kesesuaian data dan ketelitian data yang digunakan agar hasil pemantauan dapat memberikan informasi yang dapat dipercaya. Foto udara dari periode berbeda sebaiknya memiliki cakupan wilayah dan resolusi yang memadai, serta ketelitian geometrik yang memungkinkan setiap objek dibandingkan pada posisi yang sesuai. Perbedaan waktu pengambilan foto, kondisi pencahayaan, dan karakteristik permukaan juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi proses interpretasi. Setelah foto udara diolah menjadi orthomosaic, tahap berikutnya adalah melakukan interpretasi dan digitasi penutup lahan berdasarkan karakteristik objek yang terlihat.
Hasil pemetaan selanjutnya dapat diverifikasi melalui pengecekan lapangan atau ground check untuk memastikan kesesuaian antara objek pada peta dan kondisi sebenarnya. Apabila pemetaan dilakukan melalui klasifikasi, ketelitian hasilnya dapat dievaluasi menggunakan matriks kesalahan atau confusion matrix. Selain itu, Liu dkk. (2026) menunjukkan pentingnya penggunaan data pendukung seperti pengukuran GNSS dan titik kontrol tanah (Ground Control Point/GCP) dalam pemantauan perubahan topografi menggunakan UAV-LiDAR. Cândido (2026) juga menekankan perlunya memperhatikan ketidakpastian pengukuran dan validasi data agar hasil pemantauan permukaan bumi dapat diinterpretasikan secara tepat. Dengan tahapan tersebut, informasi yang dihasilkan tidak hanya berupa gambaran visual, tetapi juga didukung oleh proses pengukuran dan evaluasi ketelitian.
Hasil pemantauan selanjutnya dapat disajikan dalam bentuk peta dan informasi spasial. Informasi tersebut memungkinkan perubahan kawasan diketahui secara lebih terstruktur, seperti lokasi yang mengalami pertambahan vegetasi, perubahan area pasir terbuka, maupun perkembangan aktivitas pemanfaatan lahan. Selain perubahan penutup lahan, pemantauan juga dapat dikembangkan untuk mengamati perubahan bentuk dan elevasi gumuk pasir dengan memanfaatkan data model elevasi, seperti Digital Surface Model (DSM) atau Digital Elevation Model (DEM). Dengan demikian, pemantauan tidak hanya berfokus pada perubahan jenis penutup lahan, tetapi juga dapat memberikan gambaran mengenai dinamika morfologi kawasan. Informasi spasial yang dihasilkan dapat menjadi bahan dokumentasi, kajian, serta pendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan dan konservasi Gumuk Pasir Parangtritis.
Pada akhirnya, mengetahui perubahan Gumuk Pasir Parangtritis tidak cukup hanya dengan melihat kondisi kawasan pada satu waktu. Diperlukan data yang dapat dibandingkan, metode pemetaan yang sesuai, serta pemantauan yang dilakukan secara berkala. Foto udara dan informasi geospasial memberikan salah satu cara untuk memahami bagaimana kawasan tersebut berkembang dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Melalui pemantauan yang berkelanjutan, perubahan yang terjadi dapat dikenali lebih dini dan menjadi bahan pertimbangan dalam upaya pengelolaan kawasan. Sebab, menjaga Gumuk Pasir Parangtritis bukan hanya tentang mempertahankan hamparan pasir yang terlihat saat ini, tetapi juga memahami dinamika proses alam yang membentuk dan menjaga keberlangsungannya.
Ananda Atika Putri
Maganghub Kementrian Ketenagakerjaan
Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir
Referensi
- Burchi, B. M. J., & Theuerkauf, E. J. (2024). Comparative analysis of sandy beach and foredune geomorphic change measurements from Apple lidar and small-unoccupied aerial systems. Scientific Reports, 14, 12828. https://doi.org/10.1038/s41598-024-63466-1
- Burvingt, O., Castelle, B., Marieu, V., Lubac, B., Lerma, A. N., & Robin, N. (2025). Using Pleiades Satellite Imagery to Monitor Multi-Annual Coastal Dune Morphological Changes. Remote Sensing, 17(9), 1522. https://doi.org/10.3390/rs17091522
- Cândido, B. (2026). A critical review of UAV structure from motion photogrammetry for measuring soil surfaces and inferring soil loss. Discover Soil, 3, 140. https://doi.org/10.1007/s44378-026-00298-7
- Liu, J., Wu, J., Okida, S., Kimura, R., Du, M., & Li, Y. (2026). Detection and Monitoring of Topography Changes at the Tottori Sand Dune Using UAV-LiDAR. Sensors, 26(1), 302. https://doi.org/10.3390/s26010302
- Martín-Gallego, P., Delgado-Fernandez, I., & Marston, C. (2025). The application of satellite remote sensing to coastal dune environments: A systematic review. Progress in Physical Geography: Earth and Environment. https://doi.org/10.1177/03091333251380450
- McLaughlin, D., Doyle, T. B., Asbridge, E. F., & Rogers, K. (2026). A framework for using coastal monitoring data: A foredune case study. Ocean & Coastal Management, 272, 107989. https://doi.org/10.1016/j.ocecoaman.2025.107989
- Badan Informasi Geospasial. (2021). Monitoring Gumuk Pasir Parangtritis Tahun 2021.
