Fenomena Buntu Suangan Sungai Opak: Banjir di Tengah Kemarau
Pemandangan yang cukup mengganjal kerap kali terlihat di muara Sungai Opak. Bagaimana tidak? Di tengah kemarau yang sedang melanda, sementara hujan juga tidak turun selama beberapa bulan. Justru terjadi banjir di wilayah pesisir yang mengakibatkan banyak area persawahan milik warga ikut tergenang. Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana banjir bisa terjadi di tengah musim kemarau?
Oleh warga setempat, fenomena banjir di muara Sungai Opak disebut sebagai buntu suangan. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa yang mempunyai pengertian sebagai muara sungai yang tersumbat atau tertutup. Meskipun terjadi di area pesisir, banjir di muara Sungai Opak ini berbeda dengan banjir rob di wilayah lain. Wilayah pesisir Pantura misalnya, banjir rob umumnya terjadi karena naiknya permukaan air laut. Sementara, banjir di muara Sungai Opak diakibatkan oleh saluran sungai yang tertutup oleh sedimen pasir.

Merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), muara merupakan tempat berakhirnya aliran sungai di laut, danau, atau sungai lain. Area muara ini memiliki kawasan unik yang disebut sebagai “estuari”, yaitu muara sungai berbentuk corong yang melebar ke arah laut karena pengaruh pasang. Dalam kondisi tertentu, estuari dapat berkembang dan membentuk endapan di muara sungai. Hal ini dapat terjadi karena sedimen yang dibawa oleh aliran sungai sangat tinggi dan bertemu dengan kekuatan gelombang serta pasang-surut. Akumulasi sedimen yang terkumpul di muara sungai dapat disebut sebagai “delta”.
Dalam kasus buntu suangan, sedimen di pesisir Parangtritis terjadi karena beberapa faktor. Antara lain, sumber material utama yang berasal dari Gunung Merapi, berupa pasir vulkanik yang mengalir melalui Sungai Opak. Kedua, gelombang laut yang berasal langsung dari Samudra Hindia dengan daya hempas gelombang berenergi tinggi. Ketiga, longshore current (arus susur pantai) dari barat daya ke timur membelokkan arah muara Sungai Opak ke barat. Keempat, Tebing Karangndog (tebing karang) di bagian timur menjadi pembatas sekaligus pengumpul material.

Beberapa faktor tersebut menjadi pemicu meluapnya air sungai dan menyebabkan banjir rob yang meluap ke area persawahan warga. Sebagai upaya mengatasi hal tersebut, warga sekitar muara Sungai Opak bersama instansi terkait bergotong royong untuk melaksanakan bedah suangan. Hal itu dilaksanakan untuk membuat sodetan guna memotong sumbatan sedimen pasir di muara Sungai Opak. Hasilnya, jalur air menuju lautan lepas kembali terbuka dan kawasan persawahan terbebas dari banjir rob, sehingga ancaman puso atau gagal panen dapat dicegah.
Tito Yoga P.
Maganghub Kementrian Ketenagakerjaan
Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir
Referensi:
- Ella, M. (2021). Tinjauan Teknis Permasalahan dan Penanggulangan Banjir di Sungai Krueng Teunom Hilir Provinsi Aceh Menuju Mitigasi Bencana Banjir Terintegrasi.
- Badan Bahasa (2016). Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Badan Pengembangan Bahasa Dan Kebukuan, Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
- Hanum, L., El Ravi, A. A., Febrianty, D. R., Azizah, N. A. K., Normalita, R., Rahmawati, D. N., … & Estiono, M. S. (2024). Analisis Tingkat Kerawanan Banjir di Sub Das Opak Menggunakan Metode Weighted Overlay. Jurnal Pendidikan Geografi Undiksha, 12(1), 129-139.
