Perkembangan Gumuk Pasir Parangtritis Pada Masa Kolonial Belanda 1935

Gumuk pasir merupakan fenomena alam yang terbentuk dari material pasir yang terbawa oleh angin, kemudian menumpuk pada suatu titik di mana angin berhenti atau kehilangan energi untuk membawa material tersebut (Pye & Tsoar, 2009). Proses pembentukan gumuk pasir ini disebut sebagai proses aeolian, yaitu proses geomorfologi yang melibatkan aktivitas angin dalam erosi, transportasi, dan deposisi material pasir. Persebaran gumuk pasir terdapat di beberapa negara seperti Jepang, Vietnam, Prancis, Meksiko, dan Indonesia. Di antara gumuk pasir yang ada di Indonesia, Gumuk Pasir Parangtritis menjadi salah satu yang paling unik karena merupakan satu-satunya gumuk pasir aktif di kawasan Asia Tenggara.

Gumuk Pasir Parangtritis sedang dalam upaya konservasi karena eksistensinya yang semakin menurun akibat tingginya aktivitas manusia di sekitar area tersebut. Degradasi gumuk pasir disebabkan oleh berbagai faktor antropogenik seperti aktivitas pariwisata yang tidak terkendali, peternakan, pertanian, pemukiman, serta lalu lintas kendaraan yang merusak struktur fisik gumuk pasir. Data dari Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir menunjukkan bahwa luas kawasan gumuk pasir terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sehingga diperlukan upaya konservasi yang baik dan terkoordinasi. Peraturan tersebut membagi kawasan Gumuk Pasir Parangtritis menjadi tiga zona, yaitu zona terbatas, zona inti, dan zona penunjang, dengan fungsi dan aturan pemanfaatan yang berbeda untuk masing-masing zona. Adapun persebaran pembagian zona tersebut dapat dilihat melalui gambar berikut. 

Gambar 1.0. Peta Pembagian Zona Gumuk Pasir Parangtritis yakni Zona Penujang, Zona Inti, dan Zona Terbatas Dilihat dari kiri ke kanan (Sumber: Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir).

Eksistensi Gumuk Pasir Parangtritis sudah ada sejak masa kolonial Belanda, bahkan kemungkinan jauh sebelum periode tersebut. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa arsip foto yang ditemukan pada koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Universitas Leiden, Belanda, melalui laman website https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/imagecollection-kitlv. Arsip foto tersebut memberikan gambaran berharga tentang kondisi Gumuk Pasir Parangtritis pada masa lalu, yang dapat dijadikan sebagai rujukan data untuk upaya restorasi saat ini. Foto-foto arsip dari kawasan Parangtritis menunjukkan morfologi dan ketinggian gumuk pasir yang menjulang tinggi dengan ketinggian mencapai sekitar 30 meter. Ketinggian ini jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi gumuk pasir saat ini yang telah mengalami degradasi secara signifikan. Adapun foto arsip dari Gumuk Pasir Parangtritis pada masa kolonial Belanda dapat dilihat melalui gambar berikut.

Gambar 2.0. Foto Masyarakat Keraton Yogyakarta Dalam Melaksanakan Labuhan Pada Masa Kolonial Belanda di Kawasan Gumuk Pasir Parangtritis 1935
(Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/723735?solr_nav%5Bid%5D=352d9c6cf6833b5f55bc&solr_nav%5Bpage%5D=0&solr_nav%5Boffset%5D=19).

Pada masa tersebut, aktivitas yang umumnya dilaksanakan di kawasan Gumuk Pasir Parangtritis adalah upacara adat Labuhan, karena kawasan tersebut dekat dengan Cepuri dan Pantai Parangkusumo yang memiliki nilai sakral dalam tradisi Kesultanan Yogyakarta. Labuhan merupakan sebuah ritual tradisional yang dilaksanakan untuk memohon keselamatan, ketenteraman, dan kesejahteraan masyarakat serta negara. Cepuri dan Pantai Parangkusumo menjadi tempat dilaksanakannya Labuhan karena merupakan tempat penilasan Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam, untuk bertapa, merenung, dan memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dapat menjadi pemimpin yang bijaksana dan adil. Hingga saat ini, tradisi Labuhan masih dilaksanakan secara rutin oleh Kesultanan Yogyakarta dan menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Yogyakarta.

Gumuk Pasir Parangtritis menjadi salah satu fenomena alam yang unik dan langka di planet bumi. Keberadaan gumuk pasir aktif di kawasan tropis seperti Indonesia adalah hal yang sangat jarang ditemukan, sehingga Gumuk Pasir Parangtritis memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi, tidak hanya dari aspek ekologis tetapi juga dari aspek geologis dan ilmu pengetahuan. Keunikan ini menjadikan kawasan tersebut sebagai laboratorium alam yang berharga untuk penelitian geomorfologi, klimatologi, dan ekologi pesisir. Dengan adanya foto arsip dari masa kolonial Belanda, dapat ditunjukkan bahwa eksistensi Gumuk Pasir Parangtritis telah berlangsung cukup lama, setidaknya sejak akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Foto-foto arsip ini menjadi bukti visual yang sangat berharga untuk memahami dinamika perubahan gumuk pasir dari waktu ke waktu. Foto arsip ini tidak hanya menjadi dokumentasi historis melainkan dapat menjadi landasan ilmiah yang kuat dalam upaya konservasi Gumuk Pasir Parangtritis, terutama untuk memprediksi ketinggian dan morfologi gumuk pasir yang dapat dicapai apabila program restorasi dilaksanakan secara konsisten dan komprehensif.

Fatih Henning Octavian Haq
Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan
Balai Geospasial Pesisir dan Gumuk Pasir


Daftar Pustaka

  • Pye, K., & Tsoar, H. Aeolian Sand Dunes. (Berlin: Springer-Verlag, 2009)
  • Sholikhin M. Kanjeng Ratu Kidul dalam Perspektif Islam Jawa. (Yogyakarta: Narasi, 2009)
  • Haryanti, S., & Sutanto, A.  “Pengaruh Tutupan Vegetasi Terhadap Laju  Sedimentasi di Gumuk Pasir Parangtritis”.  Jurnal Rekaya Linkungan Vol. 19 No.1  (Fakultas Teknologi Sumber Daya Alam Institus Negeri Yogyakarta, 2019).
  • Khusnul, K., et al. “Analisis Penilaian Ekonomi Gumuk Pasir Parangtritis di  Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DIY”. Jurnal Ekonomi Pembangunan Manusia  Vol. 17 No. 2 (Program Studi Pascasarjana Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, 2017).
  • Peraturan Bupati Bantul Nomor 47 Tahun 2024 tentang Rencana Aksi Restorasi Gumuk Pasir Parangtritis Tahun 2024-2029.
  • University of Leiden. (n.d.). “KITLV Digital Image Collections“. Diakses dari https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/imagecollection-kitlv
  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. “Hajad Dalam Labuhan”. Diakses dari https://www.kratonjogja.id/hajad-dalem/2-hajad-dalem-labuhan/. 

Posting Terkait :