Museum Ullen Sentalu Berbagi Strategi Branding dan Keberlanjutan bersama Museum Gumuk Pasir



Bantul, 2025 — Museum Gumuk Pasir Bantul (BGPGP) terus memperkuat kapasitas pengelolaannya dengan menggandeng museum-museum lain sebagai mitra berbagi pengetahuan. Pada hari Rabu, 12 November 2024, Museum Gumuk Pasir berkesempatan untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama Museum Sandi dan Museum Ullen Sentalu. Dalam kegiatan Sharing Session ini, perwakilan Ullen Sentalu, Pak Jonathan, memaparkan strategi pengelolaan dan pemasaran museum modern yang berfokus pada keberlanjutan (sustainability), branding, serta pemahaman karakter pengunjung.
Kegiatan yang berlangsung hangat dan interaktif ini menjadi wadah pertukaran pengalaman antar museum di Yogyakarta, dengan semangat untuk menjadikan museum sebagai ruang edukatif yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Menjaga Relevansi Museum di Era Modern
Dalam pemaparannya, Pak Jonathan menjelaskan bahwa pengelolaan museum masa kini harus berlandaskan pada kode etik ICOM serta Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2015. Museum, katanya, tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai lembaga yang mandiri, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah bagi pembangunan kebudayaan.
“Museum bukan semata-mata mencari keuntungan, tetapi harus mampu bertahan dan relevan melalui inovasi yang berkelanjutan,” tegasnya.
Ia mencontohkan penerapan konsep sustainable museum management seperti penggunaan tiket digital untuk mengurangi penggunaan kertas, serta penerapan prinsip konservasi alam dalam setiap program publik, khususnya untuk Museum Gumuk Pasir. Melalui langkah-langkah sederhana namun konsisten ini, museum dapat menjadi teladan dalam menjaga keseimbangan antara teknologi, budaya, dan lingkungan.
Branding dan Pemasaran: Pondasi Keberlanjutan
Keberlanjutan, menurut Pak Jonathan, tidak akan berjalan tanpa strategi pemasaran dan branding yang kuat. Museum perlu memahami karakter pengunjungnya, mulai dari pelajar, keluarga, hingga komunitas dan korporasi, agar program yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan audiens.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan analitis seperti SWOT, 4P, STP, dan DRIP untuk merumuskan strategi pemasaran yang efektif. Semua langkah tersebut, ujarnya, harus berangkat dari visi dan identitas museum, sehingga setiap kegiatan yang dilakukan memiliki arah yang jelas dan terukur.
Edukator dan Riset: Kunci Pengalaman Bermakna
Lebih jauh, Pak Jonathan menggarisbawahi peran penting kurator, edukator, dan tim riset dalam menghadirkan pengalaman berkunjung yang berkesan. Edukator, misalnya, dituntut mampu menyampaikan kisah koleksi secara interaktif, menggugah emosi, dan melibatkan pancaindra pengunjung. Pendekatan ini tidak hanya menjadikan museum sebagai ruang belajar yang hidup, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu serta penghargaan terhadap warisan budaya. Selain itu, kegiatan riset menjadi fondasi penting dalam pengembangan pameran dan program edukatif yang bisa melibatkan masyarakat luas.
Menguatkan Kehadiran Digital dan Kolaborasi
Untuk memperluas jangkauan publik, Museum Ullen Sentalu juga menekankan pentingnya promosi digital melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok. Kehadiran aktif di ruang digital menjadi sarana efektif untuk menarik minat generasi muda sekaligus memperkuat citra museum di era modern.
Sebagai penutup, Pak Jonathan mengajak seluruh peserta untuk melihat museum sebagai ruang kolaboratif dan inklusif, tempat di mana komunitas bisa berinteraksi, belajar, dan berkreasi bersama. Melalui kegiatan Sharing Session ini, Museum Gumuk Pasir mendapatkan banyak inspirasi dalam mengembangkan strategi pengelolaan yang berkelanjutan, kreatif, dan berbasis riset. Kolaborasi antarmuseum seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai langkah nyata menjaga relevansi museum sekaligus memperkuat perannya dalam pelestarian budaya dan pendidikan masyarakat.
Aprilia Maharani
Geology Student
Universitas Indonesia
